– Ledakan kemajuan kecerdasan buatan atau AI kini benar-benar mengubah peta industri chip dunia. Perusahaan semikonduktor Jepang Kioxia Holdings Corp. memprediksi lonjakan laba yang sangat besar hanya dalam tiga bulan.
Seperti dikabarkan Kyodo, Sabtu (16/5), Kioxia memperkirakan laba bersih untuk periode April-Juni meningkat lebih dari 47 kali lipat menjadi 869 miliar yen. Angka ini setara sekitar Rp96,5 triliun (kurs 1 yen senilai Rp 111).
Pendorong utamanya adalah permintaan akan chip untuk pusat data yang berbasis AI. Kioxia adalah salah satu perusahaan utama yang memproduksi chip memori NAND flash, komponen penting dalam penyimpanan data dalam volume besar.
CEO Kioxia Hiroo Ota menyatakan bahwa momentum AI masih sangat kuat. Menurutnya, AI kini mulai menjadi bagian dari dasar infrastruktur masyarakat.
Tidak hanya proyeksi kuartalan yang meningkat tajam. Untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026, laba bersih perusahaan juga melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 554,49 miliar yen atau sekitar Rp 61,5 triliun.
Ini menjadi rekor tertinggi selama dua tahun berurutan. Laba operasionalnya juga meningkat 92,7 persen menjadi 870,37 miliar yen atau sekitar Rp 96,6 triliun.
Peningkatan penjualan perusahaan mencapai 37 persen, sehingga totalnya menjadi 2,34 triliun yen. Dalam rupiah, angka ini setara dengan sekitar Rp 259,7 triliun.
Permintaan datang dari berbagai bidang. Penjualan chip untuk perangkat konsumen seperti ponsel meningkat sekitar 1,5 kali lipat, sedangkan sektor industri termasuk pusat data naik sekitar 1,4 kali.
Pada kuartal April–Juni, Kioxia memproyeksikan laba operasional sebesar 1,30 triliun yen. Angka ini setara dengan sekitar Rp 144,3 triliun.
Penjualan triwulan diperkirakan mencapai 1,75 triliun yen atau sekitar Rp 194,2 triliun. Artinya, dalam satu triwulan saja, perusahaan berpeluang melebihi kinerja tahunan sebelumnya.
Kioxia juga mempersiapkan ekspansi yang agresif. Perusahaan akan menghabiskan sekitar 450 miliar yen untuk pengeluaran modal, atau sekitar Rp 49,9 triliun.
Dana tersebut digunakan untuk memperkuat kemampuan produksi serta mempersiapkan chip generasi berikutnya. Kioxia menganggap permintaan pasar masih akan lebih tinggi dibandingkan pasokan hingga tahun 2027.
Perusahaan belum merilis perkiraan lengkap untuk tahun fiskal berikutnya. Alasannya, risiko geopolitik seperti konflik di Timur Tengah masih mungkin memengaruhi pasar global.