Iklan

Grojogan Sewu Kini Terlupakan, Wisata Karanganyar Sepi Pengunjung

Monday, May 4, 2026, 2:38 PM WIB Last Updated 2026-05-03T23:32:33Z
Ringkasan Berita:
  • Grojogan Sewu mengalami penurunan signifikan jumlah pengunjung
  • Karena berada di bawah Kementerian Kehutanan, pengembangan wisata seperti berkemah atau glamping tidak diperbolehkan, menyebabkan destinasi ini ketinggalan dari perkembangan wisata terkini.
  • Harga tiket cukup tinggi dan sulit bersaing, citra negatif karena adanya pemungutan liar serta akses yang berpotensi membahayakan.
 

Dulunya, nama Grojogan Sewu selalu dikaitkan dengan keramaian yang luar biasa. Tawa para wisatawan yang riuh, langkah kaki yang menggema saat menuruni ribuan anak tangga, serta suara air terjun yang menggelegar yang bercampur dengan kebisingan pengunjung menjadi ciri khas dari destinasi ikonik di Karanganyar ini.

Namun, kini kondisinya berbeda secara signifikan. Pada hari biasa, jumlah pengunjung tidak pernah mencapai 100 orang.

Angka yang menimbulkan pertanyaan besar: apa sebenarnya yang terjadi dengan ikon pariwisata ini?

Terbelenggu Status Konservasi

Kepala Disparpora Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, menyampaikan bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan menurunnya daya tarik Grojogan Sewu berasal dari status wilayah tersebut yang berada di bawah Kementerian Kehutanan sebagai hutan konservasi.

"Perkembangan wisata berjalan cepat, tetapi di sana tidak bisa mengikuti. Kegiatan seperti berkemah, glamping, atau inovasi lainnya dilarang," ujar Yopi kepada awak media, dilansir TribunTrends, Jumat, 1 Mei 2026.

Aturan yang ketat menyebabkan ruang untuk inovasi hampir tertutup. Saat destinasi lain saling bersaing dalam menyajikan pengalaman baru, Grojogan Sewu justru terjebak dalam konsep lama yang stagnan, tidak bergerak, dan perlahan ditinggalkan.

Harga Tiket Jadi Sorotan

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah biaya masuk. Untuk menikmati keindahan air terjun ini, pengunjung perlu mengeluarkan dana sekitar Rp27.000 hingga Rp29.500 pada hari biasa.

Yang mendapat perhatian, sebagian besar tarif tersebut termasuk dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

"Kurang lebih Rp15.000 masuk ke negara. Sementara pengelola juga telah membayar biaya sewa lahan," kata Yopi.

Struktur biaya ini menyebabkan harga tiket sulit dikurangi. Akibatnya, Grojogan Sewu kalah bersaing dengan destinasi lain yang menawarkan pengalaman serupa dengan harga yang lebih terjangkau.

Sebagai perbandingan, Air Terjun Jumog hanya mengenakan tiket sekitar Rp15.000 per orang, perbedaan yang cukup besar bagi para pengunjung lokal.

Pemungutan yang Tidak Sah dan Citra Negatif

Isu tidak hanya terbatas pada tiket. Keluhan dari para pengunjung juga muncul terkait tindakan pungutan liar yang merusak kesan kunjungan mereka.

Di area Grojogan Sewu, tarif parkir ilegal dikatakan bisa mencapai Rp50.000 hingga Rp100.000. Ditambah lagi harga makanan dan minuman yang dinilai tidak wajar.

Alih-alih menikmati keindahan alam, beberapa pengunjung justru pulang dengan perasaan kecewa karena merasa "dipakai".

Dampak jangka panjang yang terlihat jelas adalah menurunnya kepercayaan masyarakat, serta turunnya minat untuk berkunjung.

Kalah Bersaing dengan Wisata Kontemporer

Sementara Grojogan Sewu menghadapi keterbatasan, destinasi lain di kawasan Tawangmangu justru berkembang pesat. Tempat seperti The Lawu Park dan Tawangmangu Wonder Park menawarkan konsep pariwisata yang modern, fasilitas lengkap, akses yang mudah, serta harga tiket yang terjangkau.

Dengan kisaran harga mulai dari Rp20.000 hingga Rp25.000, para pengunjung bisa memilih berbagai macam kegiatan yang lebih banyak, hal ini sulit diimbangi oleh Grojogan Sewu pada kondisi saat ini.

Akses Berisiko, Wisatawan Semakin Bingung

Faktor lain yang memperburuk kondisi adalah akses menuju lokasi. Ratusan anak tangga yang biasanya menjadi ciri khas kini justru dianggap sebagai ancaman.

Tangga yang licin dan curam, khususnya pada musim hujan, menimbulkan kekhawatiran. Beberapa kejadian wisatawan terpeleset hingga berakibat fatal membuat banyak orang ragu untuk kembali berkunjung.

Penurunan yang Signifikan dan Dampak Ekonomi

Data menunjukkan adanya penurunan yang cukup besar. Dulu jumlah pengunjung bisa mencapai 300 ribu setiap tahun, tetapi sekarang angkanya berkurang menjadi sekitar 236 ribu.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengelola, tetapi juga para pelaku ekonomi setempat. Potensi pendapatan yang sebelumnya mencapai Rp30 miliar per tahun kini mengalami penurunan signifikan hingga mencapai miliaran rupiah.

Pelaku UMKM, para pedagang, serta masyarakat sekitar yang menggantungkan penghidupannya dari sektor pariwisata juga terkena dampaknya.

Usaha Bangkit Meski Dengan Keterbatasan

Meskipun menghadapi berbagai hambatan, Pemerintah Kabupaten Karanganyar tidak berdiam diri. Berbagai langkah mulai dipersiapkan untuk membangkitkan kembali pesona Grojogan Sewu.

Dimulai dari kegiatan olahraga seperti fun run, lomba seni, hingga kerja sama dengan kreator konten digital menjadi langkah pertama untuk menarik perhatian, khususnya kalangan pemuda.

"Kita mendorong kegiatan yang mampu menarik perhatian masyarakat, khususnya kalangan pemuda," ujar Yopi.

Di sisi lain, muncul tekanan untuk meninjau kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan dan PNBP.

"Harapan kami adalah adanya solusi yang tetap menjaga perlindungan lingkungan, namun tidak menghambat pertumbuhan," tutupnya.

Cerita Grojogan Sewu pada hari ini mencerminkan konflik antara menjaga keasrian lingkungan dan keinginan untuk berkembang secara kreatif.

Jika tidak segera ditemukan kesepahaman, tidak mustahil ikon wisata yang pernah populer ini akan semakin terlupakan bukan karena kehilangan keindahannya, melainkan karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

***

(TribunTrends/Jonisetiawan)

Komentar

Tampilkan