- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, pihaknya tidak akan melakukan pembicaraan dalam kondisi tekanan, ancaman, atau blokade.
Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Pezeshkian dalam panggilan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, sebagaimana dikutip dalam keterangan resmi kantor presiden Iran, Sabtu (25/4).
Dilaporkan oleh Antara, Minggu (26/4), ia menyatakan bahwa titik temu dan lingkungan yang kondusif merupakan syarat utama bagi dialog yang efektif.
Menurut Pezeshkian, pengalaman negosiasi sebelumnya justru memperkuat ketidakpercayaan masyarakat di Iran, karena komunikasi berlangsung bersamaan dengan sanksi, tekanan, dan pembatasan.
Ia menekankan syarat penting dalam menyelesaikan perselisihan, yaitu berhenti bersikap musuhan dan jaminan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi kembali.
Ia juga menyatakan semakin meningkatnya kehadiran militer semakin memperumit kondisi dan melemahkan suasana dialog.
Pernyataan Pezeshkian muncul di tengah usaha Pakistan menghidupkan kembali dialog antara Iran dan Amerika Serikat setelah meningkatnya ketegangan dalam beberapa minggu terakhir.
Putaran pertama pembicaraan di Islamabad dua minggu lalu tidak berhasil mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari dan menyebar ke kawasan Timur Tengah.
Diskusi tersebut berlangsung setelah gencatan senjata selama dua minggu yang diwacanakan Pakistan pada 8 April, yang kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump.