
,JAKARTA — Selama 38 hari perang antaraAmerika Serikat dan Iran, AS telah mengirimkan puluhan senjata untuk menyerang belasan ribu sasaran. Hal ini memengaruhi pasar bahan bakar dan harga saham Amerika Serikat.
Amerika Serikat melakukan serangan terhadap lebih dari 13.000 sasaran sejak konflik berlangsung sejak 28 Februari. Selain itu, sekitar 155 kapal dilaporkan mengalami kerusakan atau tenggelam akibat operasi militer tersebut.
Dalam menjalankan tugasnya, militer Amerika Serikat memanfaatkan gabungan kekuatan udara, darat, dan laut. Terdapat 26 jenis pesawat yang dikerahkan, ditambah berbagai sistem rudal yang berasal dari darat dan laut.
Beberapa teknologi militer canggih digunakan secara perdana dalam konflik ini, misalnya pesawat pengintai dengan ketinggian tinggi dan pesawat tempur elektronik yang berfungsi mengganggu komunikasi lawan. Selain itu, Amerika Serikat juga memanfaatkan sistem pertahanan dan serangan seperti rudal Patriot, THAAD, HIMARS, serta berbagai sistem anti drone.
Dilaporkan oleh Stars and Stripes pada Selasa (7/4/2026), Amerika Serikat juga memanfaatkan drone murah yang dikembangkan dari drone Iran yang sebelumnya berhasil diraih.
Selain serangan udara, armada laut juga memiliki peran yang sangat penting. Pesawat tempur, kapal perang, kapal amfibi, hingga kapal selam bertenaga nuklir turut serta dalam operasi ini. Semua kekuatan tersebut didukung oleh kapal-kapal logistik yang memastikan pasokan tetap lancar selama berlangsungnya pertempuran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebutkan bahwa sasaran serangan ditujukan pada fasilitas kritis milik Iran, seperti pusat pengendalian militer, lokasi intelijen, markas pasukan Garda Revolusi, tempat peluncuran rudal dan pesawat tanpa awak, sistem pertahanan udara dan laut, serta gudang senjata dan bunker.
Bahkan, infrastruktur kritis seperti jembatan utama di dekat ibu kota Teheran juga menjadi sasaran serangan.
Konflik ini menyebabkan korban dari berbagai pihak, termasuk Amerika Serikat yang kehilangan 13 anggota militer. Israel melaporkan 24 orang tewas, sedangkan negara-negara Teluk mencatat 27 korban. Di sisi lain, jumlah korban di Iran diperkirakan mendekati 2.000 orang.
Harga Bahan Bakar Minyak Meningkat, Pasar Saham Mengalami Ketidakstabilan
Selain dampak militer, konflik ini juga berdampak pada perekonomian, khususnya di Amerika Serikat.
Harga bahan bakar mengalami kenaikan yang cukup besar. Rata-rata harga bensin meningkat dari sekitar US$2,92 atau Rp49.300 menjadi US$4,12 atau Rp69.600 per galon dalam waktu singkat.
Di beberapa daerah seperti Hawaii, harga mencapai US$5,60 atau sekitar Rp94.600 per galon, sementara provinsi lainnya juga telah melebihi angka US$5 atau sekitar Rp84.500.
Di sisi lain, pasar saham juga mengalami dampaknya. Meskipun indeks Dow Jones sempat naik pada satu hari perdagangan, secara keseluruhan tetap mengalami penurunan lebih dari 2.300 poin sejak sebelum perang dimulai. (Nur Amalina)