
Ringkasan Berita:
- Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa negosiasi yang berlangsung selama 21 jam dengan Iran di Pakistan tidak berhasil mencapai kesepakatan.
- Meski tidak mencapai kesepakatan, Vance mengatakan pihaknya meninggalkan "penawaran terakhir dan terbaik" untuk dipertimbangkan oleh Teheran.
- Selain itu, menurut Vance, akar utama dari kebuntuan negosiasi adalah fasilitas nuklir yang dimiliki Iran.
- Amerika Serikat menuntut komitmen jangka panjang yang mendalam agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir, meskipun Iran membantah bahwa mereka berusaha memproduksi bom atom.
Vice Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Iran pada hari Minggu (12/4/2026) tidak berhasil mencapai kesepakatan.
Namun, JD Vance menegaskan bahwa pihaknya tetap akan memberikan "tawaran terakhir dan terbaik" sebelum meninggalkan tempat pembicaraan di Pakistan.
Mengutip AFP, Vance menunjukkan bahwa pihaknya masih memberi kesempatan kepada Teheran untuk mempertimbangkan tawaran terakhir tersebut.
Sebelumnya pada hari Selasa kemarin (7/4/2026), Amerika Serikat mengumumkan akan menunda serangan bersama Israel selama dua minggu agar proses negosiasi berjalan lancar.
Kami berangkat dari sini dengan usulan yang sangat sederhana, sebuah metode penyelesaian yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik kami. Kami akan memeriksa apakah pihak Iran menerimanya," kata Vance kepada para jurnalis setelah 21 jam negosiasi di Islamabad, Pakistan.
Vance menyampaikan bahwa akar dari perselisihan utama berada pada isu fasilitas nuklir yang dimiliki Iran.
Iran bersikeras bahwa mereka tidak sedang berupaya memproduksi bom nuklir, sementara Amerika Serikat dan Israel telah melakukan serangan terhadap sejumlah lokasi penting di Iran, baik dalam perang yang pecah pada 28 Februari lalu maupun sepanjang tahun 2025.
"Kenyataannya adalah kita perlu melihat komitmen afirmatif bahwa mereka tidak akan berusaha memperoleh senjata nuklir dan tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka untuk segera mencapai senjata nuklir," tegas Wakil Presiden AS tersebut.
JD Vance menekankan bahwa tindakan Iran untuk menghentikan pengembangan nuklirnya menjadi hal penting dalam negosiasi antara kedua negara.
"Pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir ... bukan hanya saat ini, bukan hanya dua tahun ke depan, tetapi dalam jangka panjang? Kami belum melihatnya. Kami berharap kami akan melihatnya." lanjut JD Vance.
Dalam pernyataan singkatnya di sebuah hotel mewah di Islamabad, tempat kedua delegasi bertemu, Vance tidak menyebutkan perbedaan pendapat mengenai isu penting lainnya.
Vance juga tidak menyebutkan mengenai isu pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi penyebab ketidakstabilan ekonomi global.
Jalur sempit ini menjadi titik pemberhentian bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia yang dibatasi oleh Iran sejak perang berlangsung, menyebabkan kenaikan harga energi secara global.
Vance juga mengatakan bahwa Presiden Donald Trump bersikap fleksibel selama negosiasi.
"Saya rasa kami sudah cukup fleksibel. Kami juga cukup bersikap terbuka. Presiden memberi tahu kami, Anda harus datang ke sini dengan niat baik dan berusaha sebaik mungkin untuk mencapai kesepakatan. Kami melakukan hal itu, sayangnya kami gagal mencapai kemajuan," kata Vance.
Kemajuan Lambat Negosiasi Iran dan Amerika Serikat
Sebelumnya pada hari Minggu pagi, Pemerintah Iran melalui platform X mengumumkan bahwa para ahli teknis dari kedua belah pihak akan saling bertukar dokumen.
"Negosiasi akan terus berlangsung meskipun masih terdapat beberapa perbedaan," demikian isi unggahan pemerintah Iran tersebut.
Berlangsung di Islamabad, Pakistan, pertemuan ini merupakan pertemuan puncak pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam 1979 dan yang pertama dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir.
Hasil dari diplomasi ini dianggap sangat penting karena akan menentukan nasib gencatan senjata yang baru saja berlangsung selama dua minggu.
Selain itu, negosiasi ini diharapkan dapat mengaktifkan kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur penting untuk 20 persen pasokan energi dunia.
Topik Selat Hormuz dalam negosiasi ini menjadi perhatian khusus mengingat wilayah tersebut diblokir oleh Iran sejak konflik memuncak, yang menyebabkan kenaikan harga minyak global.
Melalui unggahan di platform X, pemerintah Iran menyampaikan bahwa setelah melakukan diskusi selama 14 jam, jeda dilakukan agar para ahli teknis dari kedua belah pihak dapat bertukar dokumen.
Otoritas Iran menyatakan bahwa berdasarkan usulan Pakistan, negosiasi akan dilanjutkan ke putaran berikutnya setelah masa jeda pada hari Minggu, meskipun masih ada beberapa perbedaan pendapat.
Pada pertemuan itu, perwakilan delegasi Amerika Serikat diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta penasihat senior Jared Kushner.
Di sisi lain, Iran mengirimkan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf serta Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Berdasarkan informasi dari pihak mediator, tingkat ketegangan dalam negosiasi dilaporkan mengalami fluktuasi seiring dengan perubahan suasana hati kedua belah pihak.
Hingga saat ini, pemerintahan Presiden Donald Trump belum merilis pernyataan resmi mengenai hasil negosiasi maupun sengketa yang masih berlangsung.
(/Bobby)