Ringkasan Berita:
- Kapal pertama milik Malaysia akhirnya berhasil melintasi Selat Hormuz dengan selamat pada awal minggu ini.
- Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, menyatakan bahwa ia telah melakukan pertemuan langsung dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
- Malaysia akhirnya memperoleh izin untuk melintasi Selat Hormuz secara bebas tanpa adanya hambatan yang signifikan.
Kapal pertama milik Malaysia akhirnya berhasil melintasi Selat Hormuz secara aman pada awal minggu ini, sebuah prestasi penting yang menunjukkan kelancaran jalur pelayaran di kawasan penting tersebut.
Keberhasilan ini mendapat perhatian karena Selat Hormuz terkenal sebagai jalur perdagangan energi yang sangat penting dan rentan di dunia.
Pengumuman tersebut diungkapkan langsung oleh Kedutaan Besar Iran di Malaysia setelah tercapainya kesepakatan diplomatik antara kedua negara yang sebelumnya telah dibicarakan secara mendalam.
Pernyataan ini sekaligus mengurangi kekhawatiran berbagai pihak mengenai kemungkinan hambatan dalam distribusi logistik global.
Dengan unggahan di platform X (dulunya Twitter) pada Senin (6/4/2026), pihak Kedutaan Besar Iran menyatakan bahwa hubungan bilateral yang kuat menjadi dasar utama dari kesepakatan tersebut.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa hubungan diplomatik yang baik mampu memberikan pengaruh nyata terhadap keamanan serta kelancaran kegiatan ekonomi antar negara.
"Kami telah menyatakan bahwa Republik Islam Iran tidak pernah melupakan teman-temannya. Kapal Malaysia pertama telah melewati Selat Hormuz," tulis pihak kedutaan dalam unggahan tersebut.
Pernyataan tersebut menunjukkan komitmen Iran terhadap menjaga hubungan persahabatan serta memberikan jaminan keamanan kepada mitra strategisnya.
Melengkapi caption tersebut, Kedutaan Besar Iran di Malaysia menambahkan unggahan tersebut dengan foto sebuah kapal milik Malaysia tanpa menyertakan informasi lebih lanjut mengenai identitas atau muatan kapal tersebut.
Meski tidak memiliki banyak detail, masyarakat menganggap unggahan tersebut sebagai tanda keberhasilan diplomasi yang nyata.
Kelancaran jalur logistik ini tidak terlepas dari campur tangan tingkat tinggi antara pemerintah Malaysia dan Iran, yang menunjukkan kepentingan komunikasi intensif dalam menghadapi perubahan geopolitik wilayah.
Anwar Ibrahim Menghubungi Langsung Presiden Iran
Pada hari Minggu (5/4/2026) sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, menyatakan bahwa ia telah melakukan pertemuan langsung dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Melalui pertemuan tersebut, Malaysia akhirnya memperoleh izin untuk melewati Selat Hormuz secara bebas tanpa menghadapi hambatan yang signifikan.
Kebijakan ini menjadi kabar baik bagi tujuh kapal dari Malaysia yang sebelumnya sempat terjebak di perairan tersebut.
"Saya menyampaikan kepada Presiden Iran bahwa kapal-kapal kami masih terjebak di Selat Hormuz dan hal ini sangat penting bagi kebutuhan rakyat kami serta pasokan minyak nasional," kata Anwar sebagaimana dilaporkan Bernama.
"Segera setelah panggilan telepon itu, ia memerintahkan agar kapal-kapal Malaysia diberi kesempatan," tambahnya saat berbicara dalam acara peluncuran Kolej Vokasional Pengerang di SMK Tanjung Pengelih, Pengerang, Johor.
Berdasarkan data pelacakan yang diperoleh dari LSEG dan Kpler, salah satu kapal yang diberi izin untuk berlayar adalah kapal tanker Ocean Thunder.
Kapal yang mengangkut sekitar 1 juta barel minyak mentah Basrah Heavy dari Irak diketahui telah berlayar mendekati wilayah pesisir Iran.
Kargo tersebut dimuat pada tanggal 2 Maret dan direncanakan akan diangkut ke Pengerang, Malaysia, pada pertengahan April.
Kapal Petronas Bebas Melintasi Selat Hormuz
Berdasarkan informasi dari Reuters yang mengetahui isu ini, Ocean Thunder disewa oleh Petco, sebuah unit perusahaan energi negara Malaysia, Petronas.
Menteri Luar Negeri Malaysia sebelumnya juga menyatakan bahwa terdapat tujuh kapal yang terkait dengan perusahaan Malaysia yang sedang menunggu persetujuan untuk melewati jalur air tersebut.
Selain itu, kapal yang pernah terdampar mencakup beberapa dari perusahaan seperti Petronas, Vantris Energy, dan MISC.
Sebagai informasi, Selat Hormuz adalah jalur maritim penting yang mengalirkan sekitar 20 persen dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Iran secara efektif mengunci selat tersebut sebagai respons terhadap serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada akhir Februari lalu.
Pihak otoritas Iran menyatakan bahwa mereka hanya akan mengizinkan kapal-kapal yang tidak memiliki hubungan dengan Amerika Serikat maupun Israel untuk melewati wilayahnya.
Selain Malaysia, dalam beberapa hari terakhir tercatat beberapa negara yang kapalnya telah diberikan izin untuk melintasi selat tersebut, antara lain:
Oman: Tiga kapal tanker yang dikelola oleh Oman telah diperbolehkan melewati.
Prancis: Sebuah kapal kontainer asal Prancis terpantau berhasil melintasi jalur tersebut.
Jepang: Sebuah kapal pengangkut gas milik Jepang juga diberi izin untuk melintasi selat secara aman.
Irak: Sebelumnya, Iran juga mengumumkan bahwa Irak diberikan kebebasan tanpa batasan apa pun untuk melakukan transit melalui rute laut yang penting ini.
Sampai berita ini dirilis, belum ada pernyataan mengenai izin penggunaan Selat Hormuz bagi kapal yang berasal dari Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah Malaysia pada hari Rabu sebelumnya (1 April 2026) juga mengumumkan bahwa Iran memperbolehkan kapal-kapalnya melewati selat tersebut tanpa dikenakan biaya atau tarif apa pun.
(/Tribunnews.com/Bobby)