
JAKARTA, – Mengapa seseorang cenderung mudah panik, terutama saat menghadapi situasi yang sebenarnya tidak terlalu mendesak?
Misalnya, ia cenderung kaget saat menghadapi perubahan kecil dalam rencana, lupa membawa perlengkapan, atau tiba-tiba dihubungi oleh atasan.
- Pertolongan Pertama untuk Cedera Mata akibat Bermain Padel, Jangan Mengalami Kekacauan dan Hindari Mengompres Mata
- Jangan Khawatir, Ini Metode yang Benar untuk Membantu Anak yang Menelan Baterai Kecil
Menurut psikolog Irma Gustiana, respons panik semacam itu mungkin bukan hanya sifat alami, melainkan akibat pengalaman masa lalu serta cara berpikir yang sudah terbentuk sejak lama.
Apa saja faktor yang membuat seseorang mudah merasa cemas?
Bisa dimulai dari tuntutan untuk selalu sempurna
Irma mengatakan, seseorang dapat berkembang menjadi seseorang yang cenderung gugup karena sejak kecil diajarkan untuk selalu sempurna dan tidak boleh melakukan kesalahan.
“Seseorang menjadi panikan itu disebabkan oleh fakta bahwa dahulu dia pernah diajarkan untuk selalu sempurna, mampu melakukan segalanya sehingga otaknya selalu dalam keadaan waspada," ujar Irma dalam acara Media Gathering #TenangBersamaBlueBird, di Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Keadaan ini menyebabkan seseorang hidup dalam keadaan waspada yang berlebihan. Otak terasa tidak pernah bisa rileks dan terus mencari kemungkinan bahaya, meskipun dalam situasi yang sebenarnya aman.
Irma mengatakan, hal ini dapat dianggap sebagai respons trauma masa lalu yang tidak disadari.
"Maka di dalam dirinya akan muncul perasaan yang mengancam di sekitarnya. Kondisi ini dapat dikategorikan sebagai respons trauma masa lalu," tambahnya.
- Jangan Khawatir, Anak Kena Kutu, Ini Cara Menghilangkan Kutu Rambut
- Jangan Khawatir, Berikut 3 Metode Menyelamatkan Anak yang Tenggelam
Kekhawatiran muncul dari rasa tidak aman
Menurutnya, rasa takut sering muncul ketika seseorang menghadapi kondisi yang mengingatkan kembali pada kenangan atau perasaan buruk di masa lalu.
"Kondisi kecemasan dapat menyebabkan seseorang merasa kaku karena dia merasa situasi tersebut berbahaya," katanya.
Misalnya, seseorang yang dahulu sering dihukum karena melakukan kesalahan kecil mungkin berkembang menjadi individu yang sangat takut melakukan kesalahan di tempat kerja.
Saat menghadapi kondisi yang sama, seperti lupa mengirim laporan atau terlambat menghadiri rapat, tubuhnya secara langsung merespons secara fisik, contohnya jantung berdebar, napas menjadi pendek, dan keringat dingin.
"Mungkin seseorang pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, sehingga ketika menghadapi situasi yang sama, rasa cemas muncul," kata Irma.
Bagaimana jika seseorang mudah merasa cemas?
Cobalah ngobrol ke diri sendiri
Bagaimana cara mengatasi rasa cemas agar tidak mengganggu kegiatan sehari-hari? Irma menyarankan mulai melakukan percakapan dengan diri sendiri.
Langkah yang perlu diambil ketika muncul rasa cemas tersebut adalahngobrol dengan diri sendiri,” katanya.
Meskipun terdengar mudah, berbicara lembut kepada diri sendiri merupakan metode yang efektif untuk menenangkan sistem saraf dan memulihkan kesadaran penuh.
"Katakan pada diri sendiri bahwa tidak apa-apa, ketakutan ini bisa kudatangi. Karena, perasaan takut ini bisa menjadi gangguan jika dibiarkan," tambahnya.
Ia mengatakan, menerima bahwa rasa cemas merupakan respons alami tubuh yang dapat membantu seseorang menjadi lebih tenang.
Dengan demikian, otak tidak lagi menganggap setiap situasi yang menegangkan sebagai ancaman yang perlu dikalahkan.
- Hari Ini, Sinar Matahari: Memahami Serangan Panik dan Cara Menghadapinya
- Tidak Perlu Khawatir, Ini 8 Metode Menghibur Bayi yang Tidak Tenang
Mempelajari pengenalan batasan dan mengasah pikiran yang tenang
Selain berkomunikasi dengan diri sendiri, penting juga untuk memahami tanda-tanda awal dari rasa cemas. Misalnya, pernapasan mulai mempercepat, tangan menjadi dingin, atau jantung berdebar.
Saat tanda-tanda tersebut muncul, coba ambil napas perlahan dan fokus pada cara bernapas. Berikan tubuh kesempatan untuk rileks sebelum pikiran menjadi lebih kacau.
Irma menekankan bahwa tenang bukan berarti menghilangkan segala rasa takut, melainkan melatih diri untuk tetap menyadari bahwa ketakutan tidak selalu berarti ada bahaya yang nyata.