
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga bahan bakar minyak non-subsidi belum memberikan pengaruh besar terhadap kegiatan masyarakat di Ambon.
- Antrian di SPBU tetap lancar karena sebagian besar masyarakat masih memakai bahan bakar minyak subsidi.
- Warga mulai merasa cemas apabila harga bahan bakar minyak bersubsidi juga akan mengalami kenaikan di masa depan.
Laporan Jurnalis, Jenderal Louis
AMBON, Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak mendapat subsidi hingga mendekati Rp.10 ribu per liter belum menunjukkan pengaruh besar terhadap kegiatan masyarakat di Kota Ambon, Senin (20/4/2026).
Pengamatan di SPBU Pohon Pule menunjukkan antrian kendaraan tetap stabil seperti keadaan sehari-hari.
Sejak pagi, kegiatan pengisian bahan bakar minyak terlihat ramai, khususnya karena berbarengan dengan awal pekan yang biasanya diiringi dengan meningkatnya pergerakan masyarakat.
Di antrian pengisian Pertalite terlihat lebih dari 50 kendaraan roda dua menunggu.
Terlihat didominasi oleh mahasiswa, karyawan kantor, hingga pengemudi taksi online.
Manajer SPBU Pohon Pule, Eka Malaihollo (54), menyampaikan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak mulai berlaku sejak dini hari Minggu (19/4/2026) sekitar pukul 02.01 WIT.
Selanjutnya, detail harga BBM yang mengalami perubahan adalah Dexlite yang mengalami kenaikan signifikan dari Rp. 14.500 menjadi Rp. 24.150 per liter, atau naik sebesar Rp. 9.650.
Sementara itu, beberapa jenis bahan bakar minyak lainnya tidak mengalami perubahan harga, yaitu:
• Pertamax tetap berada di harga Rp12.600 per liter
• Harga Pertalite tetap berada di angka Rp10.000 per liter
•Subsidi solar tetap sebesar Rp6.800 per liter
Meskipun terjadi kenaikan yang signifikan pada harga BBM non-subsidi, situasi ini dianggap belum terlalu memberatkan masyarakat, terutama bagi kalangan menengah ke bawah.
Hal ini disebabkan karena sebagian besar masyarakat masih tergantung pada bahan bakar minyak bersubsidi seperti Pertalite dan Solar.
Seorang pengemudi truk bernama Rido mengatakan kenaikan harga Dexlite belum memberikan dampak langsung terhadap dirinya.
Namun, ia menyampaikan kekhawatiran bahwa di masa depan harga bahan bakar minyak yang didiskon juga akan mengalami kenaikan.
"Memang saat ini belum terlalu terasa, tetapi bisa saja nanti meningkat juga. Yang tidak subsidi sudah naik, mungkin tinggal menunggu waktu saja," katanya kepada , Senin (20/4/2026).
Rido berharap pemerintah tetap bisa mempertahankan stabilitas harga bahan bakar minyak bersubsidi agar tidak memberatkan rakyat kecil.
Ia juga menekankan perlunya pengawasan terhadap penyaluran bahan bakar minyak agar tidak terjadi tindakan penyimpanan ilegal maupun penjualan yang tidak sah.
"Jika terjadi penimbunan, hal itu bisa berbahaya. Jika terjadi kelangkaan, seluruh masyarakat pasti akan kesulitan. Ini harus menjadi perhatian dari semua pihak," tegasnya.
Saat ini, masyarakat di Ambon masih mampu menyesuaikan diri dengan kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak.
Meskipun kekhawatiran mengenai dampak lanjutan masih terus muncul, khususnya bagi kelompok pengguna bahan bakar minyak bersubsidi. (*)