Jakarta, IDN Times- Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase, mengingatkan bahwa perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel bisa memicu kenaikan inflasi dan kenaikan suku bunga yang baru. Situasi ini berisiko membawa perekonomian AS ke ambang resesi, yang dapat mengubah struktur ekonomi global.
"Tetapi, juga bisa tidak," kata Dimon, dikutip dariCNN Business, Minggu (12/4/2026).
Dalam laporan tahunan yang dikirimkan kepada pemegang saham pada awal minggu ini, Dimon menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Amerika Serikat secara keseluruhan tergolong baik saat ini.
1. Ekonomi Amerika Serikat dianggap lebih kuat dibandingkan sebelumnya
Ia menyatakan, perekonomian Amerika Serikat saat ini lebih kuat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Kondisi ini mampu melindungi AS dari sebagian ketidakstabilan ekonomi global, khususnya akibat konflik perang. Namun, hal tersebut tidak menghilangkan kemungkinan terjadinya resesi.
"Meskipun perekonomian mungkin tidak selemah dulu, hal ini tidak berarti tidak ada 'titik kritis', hanya saja mungkin dibutuhkan tekanan yang lebih besar untuk mencapainya," kata Dimon dalam surat sepanjang 48 halaman itu.
2. Persaingan meningkatkan risiko terhadap harga minyak dan komoditas
Dimon menyatakan, perang dengan Iran meningkatkan kemungkinan terjadinya gejolak besar dan berkepanjangan dalam harga minyak serta komoditas. Perselisihan ini juga berpotensi mengubah rantai pasok global, mirip dengan apa yang terjadi setelah wabah COVID-19.
Dimon mengatakan, kenaikan inflasi dan suku bunga secara bertahap sebagai hambatan signifikan di tengah kondisi ekonomi AS yang kuat, yang berpotensi memicu penurunan di pasar saham tahun ini.
3. Jika terjadi penurunan di pasar saham, hal ini dapat memengaruhi perekonomian Amerika Serikat
Dimon juga memperingatkan, meskipun perekonomian Amerika Serikat masih stabil, situasi ini sangat bergantung pada pertumbuhan dan kenaikan di pasar saham. Jika keduanya menurun, berbagai ancaman ekonomi bisa muncul.
Menurutnya, harga saham Amerika Serikat yang tinggi saat ini sebagian disebabkan oleh ketidakstabilan global. Hal ini karena saham AS masih dianggap sebagai asetsafe havenNamun menurut Dimon, meskipun dianggap aman, pasar saham dapat mengalami penurunan tajam dan perekonomian bisa masuk ke ambang resesi jika para investor menjadi panik akibat memburuknya situasi pasar, sehingga akan memicu dampak berantai.
"Alami manusia tidak berubah, perasaan dan keyakinan bisa berubah dengan cepat serta memengaruhi pasar," kata Dimon.
"Penurunan harga aset di suatu titik bisa dengan cepat mengubah suasana hati dan mendorong para investor beralih ke uang tunai," lanjutnya.
Dampak Perang Iran melawan AS, Harga Plastik Meningkat 50-100 Persen FAO: Harga Pangan Dunia Terus Meningkat Jika Perang Iran Berlanjut Konflik Iran Memicu Kenaikan Harga Minyak, Anggaran Negara Indonesia Terdesak

