
Ringkasan Berita:
- Tensi antara Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat dengan ratusan pasukan AS mengalami cedera dan pesawat tempur mulai jatuh.
- Di tengah meningkatnya ketegangan militer, usaha diplomasi internasional justru mengalami hambatan karena perbedaan kepentingan negara-negara besar.
- Keadaan ini meningkatkan ancaman terhadap jalur penting energi global.
Total 365 tentara Amerika Serikat dilaporkan mengalami cedera sejak operasi militer dimulai melawan Iran.
Data ini diungkapkan oleh The Wall Street Journal berdasarkan informasi resmi dari Pentagon.
Berdasarkan data tersebut, jumlah korban luka terdiri dari 247 anggota Angkatan Darat, 63 personel Angkatan Laut, 36 dari Angkatan Udara, serta 19 Marinir.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar korban terdiri dari anggota militer dengan pangkat menengah hingga tinggi, diikuti oleh perwira dan staf yang lebih rendah.
Selain korban luka, terdapat 13 prajurit Amerika Serikat yang gugur dalam operasi tempur.
Kondisi semakin memburuk setelah Iran dilaporkan menghancurkan dua pesawat militer Amerika Serikat dalam serangan yang berbeda pada hari Jumat.
Pada kejadian tersebut, satu anggota berhasil dievakuasi, sedangkan yang lainnya masih dilaporkan hilang.
Peristiwa ini merupakan pertama kalinya pesawat tempur Amerika Serikat jatuh sejak konflik meletus hampir lima minggu yang lalu.
Kejadian itu terjadi hanya dua hari setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa militer Amerika Serikat telah "menghancurkan Iran secara total" dan akan segera menyelesaikan operasi dengan cepat.
Di sisi lain, usaha diplomasi internasional juga menghadapi kendala.
Negara Teluk, Bahrain, yang saat ini menjabat sebagai ketua Dewan Keamanan PBB, mengundurkan pemungutan suara terhadap resolusi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Resolusi tersebut sebelumnya telah diubah menjadi hanya memperbolehkan tindakan defensif untuk menjamin keamanan jalur pelayaran, bukan tindakan ofensif seperti yang awalnya diajukan oleh negara-negara Teluk dan Amerika Serikat.
Namun, perubahan tersebut tetap ditolak oleh Rusia dan Tiongkok, sehingga pemungutan suara dijadwalkan kembali pada minggu depan.
Selat Hormuz merupakan jalur penting secara global, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Kekacauan di wilayah ini berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap perekonomian dunia.
(*)