Iklan

BBM Nonsubsidi Melonjak, Pengguna Beralih Kelas? Ini 5 Fakta yang Terjadi

Monday, April 20, 2026, 5:54 AM WIB Last Updated 2026-04-20T00:54:44Z
   

PT Pertamina (Persero) akhirnya mengubah harga beberapa jenis BBM nonsubsidi pada hari Sabtu (18/4/2026). Menurut data yang tercantum di situs MyPertamina, harga Pertamax Turbo (RON 98) naik signifikan dari Rp 13.100 per liter menjadi Rp 19.400 per liter.

Peningkatan juga dirasakan Dexlite dari Rp 14.200 per liter menjadi Rp 23.600 per liter, serta Pertamina Dex yang melonjak dari Rp 14.500 per liter menjadi Rp 23.900 per liter.

Peningkatan yang signifikan ini tidak terlepas dari tekanan harga minyak global dan pelemahan kurs rupiah, yang turut berdampak pada biaya pembelian BBM. Dengan sistem penyesuaian harga yang mengikuti mekanisme pasar, BBM non subsidi menjadi lebih rentan terhadap perubahan global. Akibatnya, dampak langsung dirasakan oleh para konsumen.

Salah satu kejadian yang terjadi adalah kecenderungan sebagian pengguna untuk beralih ke bahan bakar yang lebih murah, dari BBM beroktan tinggi atau diesel premium, demi mengurangi pengeluaran harian.

Meski tampak menjadi jawaban instan, keputusan ini ternyata membawa beberapa dampak. Berikut lima fakta yang kini terjadi di lapangan:

1. Pengguna BBM Premium mulai mencari alternatif yang lebih hemat biaya

Beberapa pengendara yang sebelumnya rutin menggunakan Pertamax Turbo atau Pertamina Dex kini mulai mempertimbangkan pilihan yang lebih murah. Perbedaan harga yang meningkat tajam menyebabkan biaya operasional naik secara signifikan, terutama bagi pengguna yang memiliki mobilitas tinggi.

 

2. Bahaya Penurunan Kinerja Mesin

Beralih ke BBM dengan angka oktan atau cetane yang lebih rendah tidak selalu cocok untuk semua jenis kendaraan. Mesin yang modern dibuat dengan spesifikasi tertentu, sehingga penggunaan bahan bakar di bawah standar dapat mengurangi kinerja, termasuk tarikan yang lebih berat dan respons mesin yang kurang maksimal.

 

3. Kerusakan Jangka Panjang yang Mungkin Terjadi

Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai dengan petunjuk pabrikan dapat menyebabkan masalah jangka panjang. Di mesin bensin, risiko terjadinya knocking meningkat, sedangkan pada mesin diesel, pembakaran yang tidak sempurna bisa mengakibatkan penumpukan sisa pembakaran.

 

4. Penggunaan Bahan Bakar Justru Lebih Boros

Sebaliknya, penggunaan bahan bakar berkualitas lebih rendah pada mesin yang tidak sesuai justru dapat menyebabkan peningkatan konsumsi bahan bakar. Mesin perlu bekerja lebih keras untuk menghasilkan daya yang sama.

5. Bengkel mulai menerima keluhan

Beberapa bengkel mulai menerima keluhan dari pengguna yang mencoba mengganti jenis bahan bakar minyak. Keluhan yang terjadi biasanya berkaitan dengan penurunan tenaga, suara mesin yang lebih kasar, serta peningkatan getaran.(*)

Komentar

Tampilkan