Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyatakan bahwa penanggulangan banjir tidak dapat dilakukan secara terbatas di satu lokasi, melainkan harus mengatasi akar masalah dari hulu dengan melakukan pengelolaan kembali aliran air (area tangkapan).
Selama ini, air dari Jambangan hingga Karah terakumulasi di wilayah Margorejo. Sebagai akibatnya, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) diperintahkan untuk melakukan pengalihan aliran air.
"Saya perintahkan agar aliran air dari arah Karah dan tol dialirkan langsung ke Pompa SWK Karah. Jangan semua mengalir ke Saluran Avur Wonorejo yang melewati Ketintang," kata Eri di Surabaya, Minggu (26/4).
Pemerintah Kota Surabaya juga mengusulkan perubahan arah aliran dari Ketintang Baru agar air kembali mengalir ke saluran Kebon Agung melalui Central Park di wilayah Ahmad Yani dan Mang Kabayan (kawasan Ketintang).
"Maka, saluran di Margorejo hingga Prapen nantinya, benar-benar hanya menerima debit air dari permukiman setempat (bukan lagi menjadi tempat penumpukan air dari daerah lain)," tambahnya.
Sebagai tindakan strategis dalam menghadapi banjir di sekitar Royal Plaza dan Kantor Telkom Ketintang, Pemkot Surabaya akan membangun pompa air baru di tepi Kali Surabaya, khususnya di area Pulo Wonokromo.
"Saya telah mengajukan izin kepada BBWS untuk memanfaatkan lahan sekitar 3-4 rumah warga dalam membangun pompa, agar air dari kawasan Telkom dapat segera diangkat ke sungai, sehingga tidak terjadi genangan di Ketintang," jelas Eri.
Di sisi lain, Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menganggap masalah genangan di wilayah Ketintang, Gayungsari, hingga Karah cukup rumit dan tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
"Banjir ini rumit dan tidak bisa selesai dalam satu tahun karena ada beberapa tahapan. Masalah utamanya adalah beban air dari barat atau tol yang semua arahnya ke Timur, ke Wonorejo," jelas Adi Gunita.
Untuk melanjutkan petunjuk Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, DSDABM akan mengubah alur air secara besar-besaran dengan menghentikan beban di Avur Wonorejo dan membangun saluran menuju Sungai Kebon Agung.
Tindakan tersebut diambil karena kapasitas saluran menuju Prapen semakin terbatas. Dengan pembagian aliran ke arah selatan, diharapkan genangan di beberapa titik seperti Ketintang, Karah, hingga Gayungsari bisa berkurang.
"Rencananya, beban yang ada di Avur Wonorejo akan kita hentikan, lalu kita alirkan langsung ke arah Selatan menuju Sungai Kebon Agung. Dengan demikian, volume air yang mengalir ke saluran Prapen akan berkurang secara signifikan," ujarnya.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menetapkan target bagi DSDABM untuk menyelesaikan perpindahan aliran air guna mengatasi banjir di kawasan Ketintang hingga Margorejo, sebelum akhir Oktober 2026.