
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) terus melakukan berbagai tindakan korporasi serta pengambilalihan baru untuk memperkuat jaringan kabel serat optik bawah laut.(submarine cable). Selain itu, perusahaan juga sedang mengembangkan bisnis baru dalam bidang perdagangan telekomunikasi.
Baru-baru ini, INET berencana untuk memperoleh 60% saham PT Sarana Global Indonesia (SGI). Proses akuisisi ini dilakukan melalui investasi dengan penerbitan 180.000 lembar saham baru dengan harga transaksi sebesar Rp 1,55 juta per lembar saham. Dengan demikian, total nilai investasi mencapai sekitar Rp 280,4 miliar atau setara dengan 65,33% dari total ekuitas INET.
"Penanaman modal pada SGI menyebabkan INET menjadi pemegang kendali atas SGI dan menjadikan SGI sebagai salah satu entitas anak dari INET," tulis manajemen dalam pengungkapan informasi BEI, dikutip Senin (20/4).
PT Sarana Global Indonesia (SGI) adalah perusahaan induk yang beroperasi dalam bidang kontraktor telekomunikasi, khususnya pemasangan kabel serat optik bawah laut melalui anak perusahaannya.
INET menganggap investasi ini sebagai tindakan strategis untuk memperkuat kemampuan yang dimilikiend-to-enddalam pengembangan infrastruktur telekomunikasi, khususnya jaringan kabel bawah laut. Memiliki dua kapal khusus untuk pemasangan kabel dianggap sebagai keunggulan operasional karena mampu mempercepat pembangunan jaringan, meningkatkan efisiensi biaya proyek, hingga pengendalian kualitas dantimeline secara lebih optimal.
Selain itu, investasi ini sesuai dengan rencana perluasan INET untuk memperbesar jaringannya.backbone, termasuk koneksi antar pulau hingga internasional, seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan lalu lintas data. Sinergi antara bisnis ISP dan kemampuan konstruksi infrastruktur bawah laut juga membuka kesempatan pendapatan baru melalui penyediaan layanan pemasangan kepada pihak ketiga.
"Transaksi ini tidak hanya memperkuat daya saing INET, tetapi juga memperkuat posisi perusahaan sebagai pelaku utama yang terintegrasi dalam industri telekomunikasi nasional," kata manajemen.
Selanjutnya, SGI tercatat memiliki 99% saham di PT Jala Nusantara Mardika (JNM), yaitu sebanyak 12.375 lembar saham. Berikutnya, JNM juga menguasai 99% saham di PT Nostag Nusantara Mardika (NNM) dengan jumlah kepemilikan mencapai 999.999 lembar saham.
Tambahan Kegiatan Usaha dalam Bidang Perdagangan Besar Telekomunikasi
Sementara itu, INET juga mengumumkan rencana besar untuk memperluas jangkauan bisnisnya dengan menambahkan klasifikasi baru dalam KBLI, yaitu 46523 yang berkaitan dengan perdagangan besar peralatan telekomunikasi.
Dalam menjalankan usaha baru, INET memiliki proses operasional yang meliputi tahapan pengadaan(procurement), logistik masuk (inbound logistics), pergudangan (warehousing), pemenuhan pesanan (order fulfillment), distribusi (outbound logistics)hingga dukungan setelah penjualan(after-sales support).
Kelak INET akan menjadi distributor perangkat telekomunikasi yang mengutamakan dua ekosistem utama, yaituFiber to the Home (FTTH) dan Fixed Wireless Access (FWA). Menggunakan model bisnis tersebut, INET tidak melakukan proses produksi, tetapi lebih menitikberatkan pada pengadaan, pengelolaan rantai pasok, penyimpanan, serta pendistribusian perangkat kepada pelanggan.
Selain itu, Perusahaan juga menawarkan solusi perangkat yang terintegrasi untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur jaringan. Berdasarkan analisis kelayakan pasar, proyeksi penetrasi internet di Indonesia diperkirakan mencapai 80,66% atau setara dengan 229,4 juta pengguna pada tahun 2025.
Selain itu, perubahan minat masyarakat dalam menggunakan data seluler menuju jaringan WiFi rumah(fixed broadband) yang meningkat hingga 28,43% memberi kesempatan untuk perkembangan penjualan perangkat FTTH, seperti OLT, ONT, router, dan switch. Sementara itu, Pulau Jawa memiliki tingkat penetrasi sebesar 84,69%.
"Namun, ketimpangan akses di daerah luar Jawa menunjukkan adanya peluang pertumbuhan jangka panjang bagi operator dan ISP yang menjadi sasaran utama INET," tulis manajemen INET.
Manajemen INET menyatakan bahwa peluang pasar perusahaan masih sangat terbuka, seiring dengan dominasi layananfixed broadband yang mencapai sekitar 78% di sektor ISP. Kondisi ini secara langsung meningkatkan permintaan terhadap perangkat infrastruktur jaringan tetap.
Terdapat sekitar 300 perusahaan ISP di Indonesia yang paling banyak berada di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Timur, menjadi dasar pelanggan potensial yang memerlukan pasokan perangkat telekomunikasi secara terus-menerus. Selain itu, layanan alternatif seperti broadband satelit dan fixed wireless access (FWA) juga memberikan kesempatan bagi Perusahaan untuk menjual perangkat CPE, khususnya di daerah pedesaan dan terpencil.
Perseroan menerapkan strategi perluasan pasar dengan menargetkan operator telekomunikasi, instansi pemerintah dalam program digitalisasi, serta sektor korporasi dan properti. Tindakan ini diharapkan mampu memperkuat posisi Perseroan sambil menjaga kestabilan pendapatan jangka panjang.
Dalam proses pertumbuhan bisnisnya, INET mengarahkan perhatiannya pada beberapa segmen utama, seperti operator telekomunikasi yang menggunakan perangkat radio access network (RAN) dan backbone, ISP yang memanfaatkan perangkat fiber to the home (FTTH) dan CPE, serta penyedia layanan FWA.
Selain itu, Perusahaan juga menargetkan instansi pemerintah serta sektor korporasi dan kawasan properti, termasuk pengembang perumahan dan kawasan industri.
Dari segi kinerja, INET memperkirakan peningkatan laba bersih dari bisnis baru ini sebesar Rp 4,66 miliar pada tahun 2026, naik menjadi Rp 9,23 miliar pada 2027. Selanjutnya mencapai Rp 11,67 miliar pada 2028, Rp 14,60 miliar pada 2029, dan mencapai Rp 15,72 miliar pada 2030.