Iklan

Mencetak Uang dari Makanan Beku Anak

Sunday, March 29, 2026, 7:50 AM WIB Last Updated 2026-03-29T02:37:16Z

.CO.ID - JAKARTA.Terkadang, usaha untuk memenuhi kebutuhan gizi yang sehat bagi anak-anak bisa menjadi ide dalam membangun sebuah bisnis. Hal ini terjadi pada Widati Wulandari ketika mendirikan D'Mamam, produk makanan beku yang...frozen food khusus untuk anak.

Tentu, sebelum memasuki dunia bisnis, wanita yang akrab dipanggil Wulan ini adalah karyawan di sebuah perusahaan internasional. Saat masih bekerja, dia sering membeli makanan bergizi untuk anaknya.

Melihat peluang yang ada, Wulan memutuskan untuk bergabung dalam usaha tersebut pada tahun 2014. Awalnya, ia membuka usaha bubur bayi yang sehat. Modal usaha diperoleh dari uang pesangon yang dimilikinya. Namun, hasil yang dicapai tidak maksimal.

"Ternyata, pengalaman saya selama 10 tahun (bekerja) sama sekali tidak sebanding dengan waktu saya masuk ke dunia bisnis. Ternyata, sangat berbeda," katanya saat berbicara dalam Program Insthink Kementerian UMKM belum lama ini.

Kegagalan tersebut ternyata disebabkan oleh kesalahan dalam segmentasi pasar. Namun, semangat kewirausahaannya tetap menyala. Pada tahun 2015, ia melakukan perubahan strategis dengan meluncurkan D'Mamam 2.0, yang menawarkan makanan beku sehat untuk balita tanpa menggunakan penguat rasa dan bahan pengawet.

Saat itu, modal yang Wulan keluarkan untuk memulai usaha sekitar Rp 500.000. Karena terbatas, dia hanya mempercayakan sistempre order

"Maka, begitu pelanggan memesan, langsung saya buat," kata Wulan.

Ternyata, produk makanan beku yang sehat mulai menempati posisi di pasar. Dengan permintaan yang terus meningkat, D'Mamam mulai mempertimbangkan pendanaan luar untuk memperluas bisnisnya.

Wulan kemudian menargetkan salah satu pemberi dana, yaituequity crowdfundingdi LBS Urundana. Tidak terduga, ia berhasil mendapatkan dana segar sebesar Rp 1,4 miliar dengan menjual 16% saham perusahaannya.

Ini menjadi bekal bagi Wulan untuk melangkah lebih tinggi, dari industri rumahan menuju skala pabrik. Kini, operasional D’Mamam telah dipindahkan ke pabrik seluas 1.300 meter persegi (m²) di Bogor Barat. Fasilitas ini mampu memproduksi antara 50 ton hingga 80 ton per bulan.

Tidak ketinggalan, ia juga telah menerapkan standar mutu terhadap produknya.

Meskipun kapasitasnya besar, Wulan mengatakan bahwa penyerapan pasar saat ini hanya mencapai sekitar 15 ton per bulan, atau setara dengan 20%-30% dari kapasitas produksi yang tersedia.

Maka dari itu, ia mulai memperluas cakupan pasar.

Salah satunya adalah dengan memanfaatkan saluran penjualan secara online. Kini, sekitar 80% dari penjualan terjadi secara virtual melaluimarketplace dan gudang penghubung (hub).

Khusus untuk pengiriman ke luar Jabodetabek, Wulan memanfaatkan basis pelanggannya sendiri.

Akibatnya, bisnis D’Mamam telah berkembang hingga ke Malaysia. Saat ini, produknya sudah dapat ditemukan di enam toko perlengkapan bayi (baby shop) di negara tetangga melalui pengiriman kargo.

Ia berharap, produknya dapat lebih luas lagi menjangkau pasar dalam negeri.

Komentar

Tampilkan