Iklan

Kayu Hanyut Banjir Aceh-Sumut Jadi Bahan Baku Hunian

Sunday, April 5, 2026, 11:38 PM WIB Last Updated 2026-04-04T23:25:11Z

, JAKARTA - Kayu yang terbawa banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mulai digunakan sebagai bahan bangunan untuk rumah sementara warga.

Ketua Tim Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pasca Bencana SumateraTito Karnavianmengungkapkan bahwa mereka telah merancang rencana penggunaan kayu hanyut sebagai bahan baku untuk membangun perumahan serta kebutuhan kalangan industri.

"Kemudian juga (bisa) digunakan masyarakat untuk membangun (tempat tinggal) sendiri, silakan," kata Tito dikutip dari rilis resmi Istana, pada Sabtu (4/4).

Berdasarkan data Satgas PRR pada 2 April 2026, pemanfaatan kayu hanyutan sudah dilaksanakan di berbagai daerah yang terkena dampak.

Di Kabupaten Aceh Utara, Aceh, sebanyak 2.112,11 meter kubik kayu telah digunakan dalam pembangunan hunian sementara.

Sementara itu, di Kabupaten Aceh Tamiang terdapat 572,4 meter kubik kayu yang sedang menunggu kebijakan pemerintah daerah terkait penentuan penggunaannya.

Di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, terdapat 329,24 meterkubik kayuuntuk pengembangan tempat tinggal sementara, fasilitas sosial, serta fasilitas umum.

Di Kabupaten Tapanuli Tengah, sebanyak 93,39 meter kubik kayu telah dimanfaatkan dalam mendukung pemulihan rumah warga yang terkena dampak.

Kemudian, di Kota Padang, Sumatera Barat, volume kayu hanyutan sebesar 1.996,58 meter kubik telah diserahkan kepada pemerintah daerah guna dimanfaatkan sesuai kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Tito menyatakan penggunaan kayu hanyutan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 191/2026, yang menetapkan penggunaan kayu hanyutan akibat bencana sebagai sumber daya material untuk mendukung penanganan darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Ia menyampaikan bahwa bagian kayu hanyutan yang berukuran kecil dan tidak ekonomis sebaiknya dimanfaatkan oleh pemerintah daerah agar dapat menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).

Misalnya, digunakan sebagai bahan dasar pembuatan batu bata atau bahan bakar untuk pembangkit listrik.

"Mekanismenya (melalui) kerja sama dan pendapatannya menjadi PAD (Pendapatan Asli Daerah)," ujarnya.

Ia juga memastikan percepatan pemanfaatan kayu yang terbawa oleh air akan terus dilakukan hingga seluruh tumpukan kayu yang terbawa oleh air bersih di berbagai lokasi bencana.

Menteri Dalam Negeri mengatakan bahwa saat ini sebagian besar tumpukan kayu yang terbawa arus di tiga wilayah yang terkena dampak telah berkurang secara signifikan.

"Kayu (hanyutan) di Aceh sekitar 70 persen telah diselesaikan, sementara 30 persen lainnya belum ditangani, khususnya yang berada di daerah pedalaman. Selanjutnya di Sumbar, 99 persen sudah terselesaikan, dan di Sumut sebanyak 90 persen di Tapanuli Tengah serta Tapanuli Selatan," jelasnya.(mcr4/jpnn)

Komentar

Tampilkan