Iklan

Faktor Penentu Harga Minyak: Dari Produksi hingga Psikologi

Monday, April 6, 2026, 3:37 AM WIB Last Updated 2026-04-06T09:04:44Z

Jakarta, IDN Times- Minyak bumi tetap menjadi dasar perekonomian dunia meskipun pengembangan energi ramah lingkungan terus berlangsung. Sejarah menyebutkan bahwa sumur komersial pertama baru dibangun di Azerbaijan pada 1846, diikuti oleh Amerika Serikat (AS) pada 1859.

Dikutip dari Investopedia, era minyak modern dianggap berawal setelah ditemukannya sumur Spindletop di Texas pada tahun 1901 yang mampu menghasilkan secara massal melebihi total produksi seluruh sumur di Amerika Serikat pada masa itu.

1. Tiga unsur utama yang memengaruhi harga minyak global

Sebagai komoditas yang diminati tinggi, perubahan harga minyak memiliki pengaruh signifikan terhadap perekonomian. Ada tiga faktor utama yang memengaruhi pergerakan harganya.

Perdagangan dan permintaan: Dalam teori, harga meningkat ketika permintaan tinggi atau pasokan berkurang, sebaliknya. Namun, kenyataannya harga minyak ditentukan di pasar kontrak jangka panjang (futures), di mana pembeli dan penjual memiliki kesepakatan mengenai harga dan tanggal tertentu di masa depan.

Fungsi hedger dan spekulan: Perdagangan kontrak berjangka dipegang oleh dua pemain utama. Hedger, seperti perusahaan penerbangan, membeli kontrak untuk mengamankan diri dari kenaikan harga. Sementara itu, spekulan hanya memprediksi pergerakan harga tanpa bermaksud menerima pengiriman minyak secara fisik. Data dari Chicago Mercantile Exchange (CME) menunjukkan bahwa spekulan mendominasi pasar, sedangkan pembeli komoditas secara fisik hanya sekitar 3 persen.

Perasaan pasar: Psikologi pasar memiliki peran yang sangat signifikan. Keyakinan bahwa permintaan akan meningkat dalam waktu mendatang dapat memicu kenaikan harga sekarang akibat tindakan pembelian besar-besaran dari spekulan dan pelaku hedging.

2. Harga tidak selalu menurun ketika produksi melimpah

Teori harga yang menurun ketika produksi melimpah tidak selalu berlaku untuk minyak. Misalnya, pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020, permintaan minyak menurun tajam, namun harga bahan bakar hanya sedikit turun dan segera pulih.

Hal tersebut terjadi akibat hambatan di bidang distribusi dan pengolahan (refinery). Di Amerika Serikat, jumlah kilang justru menurun sejak tahun 1970-an.

Meskipun kapasitas pabrik yang ada sangat besar, mereka beroperasi pada tingkat 90 persen agar tetap memiliki cadangan kapasitas untuk kebutuhan masa depan, sehingga kelebihan pasokan minyak murah tidak terjadi di pasar.

Selain itu, secara historis terdapat pola fluktuasi harga komoditas sekitar 29 tahun. Puncak dari indeks komoditas tercatat terjadi pada tahun 1920, 1958, dan 1980. Namun, pola ini hanya berfungsi sebagai panduan karena faktor-faktor seperti pasokan, permintaan, dan perasaan pasar tetap lebih berpengaruh.

3. Dampak politik internasional dan fungsi OPEC

Faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap harga adalah kartel produsen seperti OPEC. Terdiri dari 12 negara, OPEC menguasai sekitar 40 persen pasokan minyak global. Organisasi ini dibentuk pada tahun 1960 dengan tujuan mengatur harga melalui pembatasan produksi.

Namun, pengaruh OPEC mulai berkurang seiring meningkatnya produksi dari negara-negara yang bukan anggota seperti Kanada, Tiongkok, Rusia, dan Amerika Serikat. Selain itu, beberapa negara anggota sering kali melebihi batas produksi yang ditentukan.

Faktor geopolitik, seperti serangan Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, sempat mengganggu pasar dan menyebabkan kenaikan harga melebihi 120 dolar AS per barel.

Insentif Kendaraan Listrik Masih Diperlukan Meski Kenaikan Harga Minyak Mengancam Anggaran Pemerintah Ekspor Minyak Arab Saudi Berkurang 50 Persen Karena Penutupan Selat Hormuz Konflik Iran Memicu Kenaikan Harga Minyak, Anggaran Negara Indonesia Terdesak
Komentar

Tampilkan