Iklan

Saham Multibagger Kehilangan Tenaga, DSSA-DCII Terpuruk Saat IHSG Jatuh

Saturday, May 23, 2026, 2:43 AM WIB Last Updated 2026-05-22T23:27:51Z

Setelah lama melesat hingga to the moon"Saham langit" atau saham dengan harga tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai kehilangan momentum. Hal ini terjadi saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali turun ke level 6000-an, mirip dengan masa pandemi Covid-19.

IHSG berakhir turun sebesar 0,8% atau 52 poin menjadi 6.318 pada perdagangan Rabu (20/5). Titik IHSG sempat mencapaiall-time high(ATH) pada 20 Januari 2026 berada di tingkat 9.134 dengan kapitalisasi pasar yang tercatat mencapai Rp 16.590 triliun.

Saat ini, indeks semakin menjauhi level 9.000 dan kapitalisasi pasar telah berkurang hingga Rp 5.028 triliun sejak mencapai rekor tertinggi (ATH) sebelumnya. Di tengah penurunan tersebut, saham-saham yang biasanya memberikan keuntungan besar atau sering disebut sebagai multibagger seperti saham milik konglomerat Otto Toto Sugiri, PT DCI Indonesia Tbk (DCII), serta Grup Sinarmas milik konglomerat Franky Oesman Widjaja, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga turut menjadi beban. Pada Agustus hingga akhir 2025, saham DSSA dan DCII merupakan saham utama yang mendukung kenaikan IHSG.

Apabila melihat secara year to date(ytd) saham DCII turun 1,13%, sempat berada di harga Rp 226.400. Sementara pada Agustus 2025 lalu, saham perusahaan data center tersebut mencapai level tertinggi atauall time high (ATH) di Rp 359.900. Namun dalam perdagangan Senin (18/5), saham DCII merosot 2,59% menjadi Rp 197.750 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 471,39 triliun. Dalam enam bulan terakhir, DCII telah turun sebesar 27,80%.

Tidak hanya DCII, saham DSSA justru semakin memprihatinkan. Hingga saat ini, penurunan mencapai 78,22% dan turun 73,17% dalam sebulan terakhir, sehingga harganya kini berada di bawah Rp 1000. Pada perdagangan Senin (18/5), saham DSSA mengalami penurunan tajam hinggaauto reject bawah (ARB) 14,98% menjadi Rp 880 dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 169,52 triliun. Pada hari Rabu (20/5), harga saham DSSA telah berada di Rp 770 dan turun 5,33% dalam sehari.

Melihat jejak kejayaannya, harga DSSA pernah mencapai level tertinggi sebesar Rp 116.000 per saham pada awal Januari 2026. Bahkan pada Juli 2024, harga saham DSSA pernah menyentuh angka Rp 260 ribu per saham.

Setelah melakukan stock split, sahamnya kini mengalami penurunan. Berdasarkan data BEI, harga saham DSSA diperdagangkan pada Rp 2.680 setelah penyetaraan untuk stock split 1:25 dari harga penutupan pasar pada Rabu (9/4) sebesar Rp 67.000.

Tindakan perusahaan ini menyebabkan jumlah saham DSSA di pasar meningkat menjadi 192,6 miliar lembar saham, dibandingkan sebelumnya sebanyak 7,7 miliar lembar. Nilai nominal saham juga berubah dari Rp 25 per saham menjadi Rp 1 per saham. Meskipun demikian, stock split tidak memengaruhi bobot IHSG, karena kapitalisasi pasar DSSA berdasarkan data terbaru BEI mencapai Rp 516 triliun atau setara dengan 7% dari indeks tersebut.

Komentar

Tampilkan