
.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina EP (Pertamina EP) mengadakan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan PT Cikarang Listrindo, pada hari Rabu (20/5/2026), sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Indonesia Petroleum Association Convention & Exhibition (IPA Convex) ulang tahun ke-50 tahun 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan.
Perjanjian pembelian dan penjualan gas ini, yang berlaku hingga 16 September 2035, akan memenuhi kebutuhan industri di wilayah Jawa Barat. Pasokan gas dari Wilayah Kerja Pertamina EP berasal dari Lapangan Akasia Bagus, Jatibarang Field, dengan total volume mencapai 20 miliar kaki kubik standar (BSCF).
Pada kesempatan yang sama, PT Pertamina EP juga mengadakan Perjanjian Jual Beli Gas dengan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) guna mendukung produksi dan pengoperasian minyak serta gas bumi di Wilayah Kerja Rokan, Provinsi Riau. Perjanjian tersebut berlaku hingga 31 Desember 2030 dengan volume total sebesar 35 triliun.British Thermal Unit (TBTU).
Hadiri dalam acara penandatanganan perjanjian tersebut adalah Direktur Utama PT Pertamina EP Rachmat Hidajat, Direktur PT Cikarang Listrindo Yudho Pratikto, serta Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan Muhamad Arifin.
Kolaborasi antara PT Pertamina EP dan PT Cikarang Listrindo merupakan tindakan strategis untuk menjamin pasokan energi yang handal dan berkelanjutan bagi sektor industri nasional, khususnya di Jawa Barat.
"Perjanjian jangka panjang ini diharapkan mampu memberikan kepastian pasokan energi dan berkontribusi positif terhadap daya saing industri di Jawa Barat, serta mendukung perkembangan ekonomi daerah," kata Direktur Utama PT Pertamina EP Rachmat Hidajat dalam pernyataannya.
Melalui dua perjanjian pembelian gas ini, perusahaan menjamin penerimaan bagian negara dari penjualan gas yang berasal dari Wilayah Kerja Pertamina EP di Jawa dan Sumatra, serta memperkuat kemandirian dan kedaulatan energi nasional.
Pertamina Mengungkap Potensi 11 Miliar Barel Minyak di Nusantara
Sementara itu, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya sebesar 11,3 miliar barel minyak di lokasi tertentu (barrel oil in place/BBO) untuk pengembangan Energi Bumi Non Konvensional (EBNK).
"Berita baiknya, baru-baru ini kami menemukan 11 miliar barel minyak di lokasi untuk sumber daya non konvensional," kata Oki Muraza dalam sesi tersebut.Global Executive Talk yang digelar di IPA Convex, Tangerang, Banten, Rabu.
Oki percaya temuan itu merupakan angin segar di tengah berakhirnya masa lalueasy energy. Mengenai yang dimaksud dengan berakhirnya masa eraeasy energyadalah semakin berkurangnya akses terhadap sumber daya minyak dan gas bumi yang tradisional, sehingga mendorong perusahaan energi untuk berinovasi dan memanfaatkan teknologi.
Saat ini, menurut Oki, tugas utama Indonesia adalah bagaimana pemerintah menciptakan peraturan dan kebijakan fiskal yang kompetitif guna mendukung pengembangan sumur minyak dan gas bumi non konvensional.
"Kemudian, kami akan mengundang mitra perusahaan untuk membentuk ekosistem serupa dengan yang ada di Permian Basin, Amerika Serikat," kata Oki.
Ia menyoroti bahwa pengembangan sumber daya manusia (SDM) juga tidak terlewat dari perhatian Pertamina agar Indonesia semakin siap dalam pengembangan Migas Non-Konvensional (MNK).
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menemukan potensi besar di wilayah North Aman yang diperkirakan memiliki cadangan sebesar 11,3 miliar barel minyak di tempatBBO. Peluang ini merupakan kesempatan yang sangat penting yang selama ini belum dimanfaatkan di Indonesia.
PHR juga telah menetapkan rencana pengembangan MNK secara bertahap, dimulai dari target pemberian kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) pada kuartal kedua tahun 2026, dilanjutkan dengan penggalian sumurappraisal pada kuartal IV 2026.
Produksi awal direncanakan dimulai pada tahun 2028, diikuti oleh pengembangan skala besar mulai tahun 2030 dan prediksi puncak produksi pada 2037.