Iklan

CJIBF 2026 Cetak Pendapatan Rp16 Triliun, Investor Tiongkok dan Thailand Datang ke Jawa Tengah

Wednesday, May 13, 2026, 5:34 AM WIB Last Updated 2026-05-13T16:42:09Z

, SEMARANG –Pelaksanaan Central Java Investment Forum (CJIBF) 2026 yang bertujuan menarik aliran dana ke Jawa Tengah telah memperlihatkan hasilnya.

Hanya sehari setelah dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, acara tersebut telah menghasilkan 40 surat pernyataan minat (LOI) atau nota minat investasi dengan total nilai mencapai Rp16 triliun.

Hasil tersebut didapat melalui serangkaian pertemuan langsung antara calon investor dengan pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, dan pelaku bisnis.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sakina Rosellasari menyampaikan bahwa 40 minat atau surat pernyataan keinginan tersebut berasal dari pertemuan langsung satu lawan satu terhadap 21 proyek yang ditawarkan kepada calon investor.

Terdiri dari 17 proyek yang mencakup bidang energi terbarukan, pertanian dan pengolahan pangan, pariwisata hingga pertambangan di Jawa Tengah.

Berikut 4 kawasan industri utama di Jawa Tengah, antara lain Kendal Special Economic Zone, Industropolis Batang Special Economic Zone, Wijayakusuma Industrial Park, serta Jatengland Industrial Park Sayung.

"Pastinya ini menjadi tugas DPMPTSP untuk memantau. Minat yang telah ditandatangani surat pernyataan keinginan ini kita pantau agar benar-benar terwujud dalam bentuk investasi," katanya di sela-sela mendampingi Gubernur Ahmad Luthfi dalam acara Gala Dinner Rapat Kerja Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama (FKD MPU) di Hotel Tentrem, Kota Semarang, Senin 11 Mei 2026.

Sakina menyebutkan, para calon investor yang mengadakan pertemuan satu lawan satu sangat antusias terhadap seluruh sektor yang disajikan.

Sehingga para calon investor baik dari dalam maupun luar negeri menyatakan komitmen awal untuk bermitra dalam bisnis atau investasi.

Selain itu, sektor yang menarik minat para investor lokal atau penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencakup industri manufaktur, biomassa, geothermal, industri garam, serta mocaf dan pengolahan hasil pertanian.

"Terdapat investasi asing (PMA) dan investasi dalam negeri (PMDN). PMA yang saya ketahui berasal dari Thailand, Tiongkok, dan India. Kami terus memantau minat tersebut. Biasanya memerlukan waktu 1-2 tahun, realisasi bergantung pada negara asal investor dalam melakukan penilaian," jelasnya.

Sakina menambahkan, CJIBF diselenggarakan guna mendorong pencapaian target investasi tahunan. Pada tahun 2025, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp110 triliun.

Pada tahun 2026, target dana investasi yang masuk diharapkan mampu melebihi angka tahun sebelumnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengatakan, CJIBF adalah kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah dalam mempromosikan peluang investasi di Jawa Tengah.

Tujuan dari ini adalah menghubungkan pengusaha atau calon investor, baik dari dalam maupun luar negeri, dengan pemerintah serta mitra pemerintah, termasuk kawasan industri.

Luthfi menegaskan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan sektor investasi di wilayahnya. Karena, sektor investasi memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah.

Besarnya investasi memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I sebesar 5,89 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang mencapai 5,61 persen.

"Artinya, untuk meningkatkan kondisi ekonomi di daerah kami diperlukan adanya pertemuan semacam ini," katanya.

Selanjutnya, dalam mendukung investasi, Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan sekitar 12 kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus baru.

Ini adalah langkah dari pemerintahan kolaboratif antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota di Jawa Tengah. (*)

Kumpulan Artikel Nasional

Komentar

Tampilkan