
, PELALAWAN- Warga di kawasan pesisir Kabupaten Pelalawan mengalami kesulitan memperoleh Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi selama dua minggu terakhir.
BBM jenis pertalite dan biosolar pernah mengalami kelangkaan di wilayah Kecamatan Kuala Kampar serta Kecamatan Teluk Meranti beserta sekitarnya.
Kekurangan ini memberikan pengaruh signifikan terhadap kegiatan ekonomi masyarakat yang bergerak di sektor perkebunan, pertanian, hingga mencari ikan di sungai maupun laut.
"Meskipun ada yang menjual ketengan, harganya cukup tinggi. Satu botol bisa mencapai Rp 30 ribu," ujar warga Kuala Kampar, Rizaldi (44) kepada , Selasa (12/5/2026).
Kesulitan mendapatkan BBM subsidi telah dirasakan sejak dua minggu terakhir, sehingga masyarakat harus membatasi kegiatannya. Warga yang ingin pergi ke kebun untuk memanen kelapa terpaksa mencari bahan bakar terlebih dahulu, agar dapat mengangkut hasil panen ke para pengepul.
Demikian pula para petani yang ingin pergi ke sawah, sebelumnya setiap hari, hanya sekali dua hari saja.
Sementara para nelayan yang mencari penghidupan dengan menggunakan jaring dan alat tangkap ikan lainnya harus membeli bahan bakar yang mahal, agar mesin robbin yang menggerakkan perahu dapat berfungsi.
Tentu saja keadaan ini semakin memburuk karena lokasi geografis daerah pesisir Pelalawan yang penuh dengan berbagai tantangan.
"Alhamdulillah, kemarin BBM sudah mulai masuk ke SPBU. Antrian langsung panjang, karena lama tidak tersedia," tambahnya.
Warga di Teluk Meranti juga mengeluhkan hal yang sama terkait kelangkaan bahan bakar minyak dalam beberapa waktu terakhir. Sebenarnya masyarakat sudah terbiasa membeli pertalite dengan harga yang jauh lebih tinggi dari Harga Eceran Tetap (HET) Rp 10 ribu per liter.
Sebelumnya, Pertalite dalam kemasan botol minuman besar 1,2 liter dibeli dengan harga Rp 20.000 hingga Rp 25.000, tidak menimbulkan masalah.
"Warga tetap membeli meskipun harganya lebih tinggi, sejak dulu juga begitu. Masalah BBM tidak ada atau langka. Uang ada, tapi tidak ada yang menjual bensin," ujar Zulkifli (38).
Situasi yang serupa dialami oleh penduduk desa di sekitar Sungai Kampar serta daerah perbatasan lainnya. Harga bahan bakar minyak bersubsidi yang hampir sama dengan yang non subsidi merupakan hal yang wajar, selama pasokan minyak tersedia.
Kendala kelangkaan BBM di kawasan pesisir Pelalawan telah dibahas oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan dengan Pertamina dalam rapat koordinasi minggu lalu. Pemda meminta Pertamina memastikan distribusi ke SPBU yang berada di pesisir secara teratur dan tepat waktu sesuai dengan kuota yang ditetapkan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kekosongan pasokan, mengingat kondisi geografis yang sulit diakses.
Kami juga mengajukan penambahan sub penyalur BBM subsidi di desa-desa yang sulit diakses. Jadi tidak perlu lagi pergi ke desa lain yang memiliki SPBU atau penyalur," jelas Kepala Dinas Koperasi UMKM Perindustrian Perdagangan Pelalawan, Hanafie.
Dengan penambahan sub penyalur bahan bakar minyak subsidi di kawasan pesisir, masyarakat akan memperoleh bensin dengan harga lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya.
Selain itu, ketersediaan bahan bakar minyak lebih terjamin, sehingga berdampak pada aktivitas perekonomian masyarakat yang semakin lancar tanpa hambatan.
"Kami telah menyiapkan surat dan dokumen-dokumen yang diperlukan. Tampaknya Pertamina merespons dengan baik mengenai rapat kemarin. Semoga segera disetujui," tegas Hanafie.
Selain menunggu persetujuan permohonan penambahan sub penyalur, Dinas Koperasi dan Perdagangan juga rutin berkoordinasi dengan Pertamina mengenai pendistribusian BBM ke wilayah Kuala Kampar dan Teluk Meranti.
Sehingga pasokan tidak terhambat dan kekurangan dapat ditangani dengan baik.(/Johannes Wowor Tanjung)